1 Pendahuluan
Sifat-sifat mekanik zat padat seperti kekuatan tarik
(tensile strength), kekuatan tekan (
compressive strength),
modulus elastis (moduus young, modulus geser dan modulus bulk),
keuletan, ketangguhan, kekerasan dan kekuatan impak merupakan
sifat-sifat fisis zat padat yang perlu mendapatkan perhatian bagi para
peneliti yang melakukan penelitian tentang rekayasa bahan, karena
sifat-sifat tersebut memberikan peranan penting bagi terciptanya syatu
bahan yang sesuai dengan yang dikehendaki. Masing-masing benda padat
seperti logam, keramik, polimer, semikonduktor, dan superkonduktor
masing-masing memiliki sifat-sifat mekanik yang berbeda satu sama lain.
Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan aplikasi bagi
bermacam-macam benda padat tersebut diatas. Sebagai contoh, logam
memiliki tingkat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan polimer. Oleh
karenanya logam banyak digunakan untuk peralatan yang membutuhkan
kekuatan yang besar (alat-alat industri, komponen peralatan transportasi
dan lain-lain), sementara polimer banyak digunakan untuk peralatan
rumah tangga.
Mengingat pentingnya pengetahuan tentang sifat-sifat mekanik dalam
rekayasa bahan maka akan dilakukan pengukuran beberapa sifat-sifat
mekanik zat padat dengan menggunakan
autograph tipe AG-10 TE Shimadzu. Sifat-sifat mekanik yang akan diukur adalah
stress (tegangan), strain (regangan), kekuatan tarik (
tensile strength), kekuatan tekan (
compressive strength) dan modulus elastisitas.
2 Dasar Teori
2.1 Stress (Tegangan)
Stress atau tegangan didefinisikan sebagai perbandingan
antara gaya terhadap luas penampang daerah yang dikenai gaya tersebut
(Van Vlack, 1991). Dalam satuan international
stress memiliki lambang S dan satuan N/m
2.
Gaya yang bekerja pada benda menyebabkan terjadinya perubahan ukuran
benda. Pengaruh vector gaya terhadap sumbu x menghasilkan besaran
tensile stress
dengan lambang σx . Indeks x menyatakan arah vektor gaya. Pengaruh gaya
terhadap sumbu y dan sumbu z menghasilkan momen yang disebut besaran
shear stress. Untuk sumbu y, shear stress dilambangkan σxy , sedangkan untuk sumbu z dilambangkan σxz.
Hubungan antara besaran-besaran tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
(1)
(2)
dengan i,j,k adalah vektor satuan untuk masing-masing sumbu.
2.2 Strain (Regangan)
Strain atau regangan didefinisikan sebagai perbandingan
perubahan panjang benda terhadap panjang mula-mula akibat suatu gaya
dengan arah sejajar perubahan panjang tersebut (Van Vlack,1991). Dalam
satuan internasional, strain memiliki lambang dengan satuan mm/mm atau
%.
(3)
dengan adalah perubahan panjang benda dan Lo adalah panjang benda
mula-mula. Benda padat yang dikenai gaya akan mengalami perubahan
ukuran. Jika gayanya berupa gaya tarik maka benda akan memanjang,
sebaliknya jika gayanya adalah gaya tekan, maka benda akan memendek. Hal
ini terjadi jika ukuran panjangnya jauh lebih besar dari lebarnya.
Sementara jika ukuran panjang dan lebar suatu benda hampir sama maka
akibat adanya gaya akan mengakibatkan terjadinya regangan geser.
(Callister,1991).
2.3 Modulus Elastisitas
Elastisitas didefenisikan sebagai kemampuan bahan untuk menerima
tegangan tanpa mengakibatkan tejadinya perubahan bentuk yang permanen
setelah tegangan dihilangkan. Peristiwa ini disebut juga
deformasi elastis. Deformasi
elastis terjadi bila logam atau bahan padat dibebani gaya. Bila
tegangan tersebut disebabkan oleh gaya tarik maka benda akan bertambah
panjang, setelah gaya ditiadakan benda akan kembali ke bentuk semula.
Sebaliknya jika tegangan tersebut disebabkan oleh gaya tekan maka akan
mengakibatkan benda akan menjadi lebih pendek dari keadaan semula (Van
Vlack, 1991). Bila hanya ada deformasi elastik, maka regangan sebanding
dengan tegangan. Perbandingan antara tegangan (σ) dan regangan elastik
() disebut modulus elastisitas
(modulus young) yang dapat dituliskan sebagai berikut :
(4)
Persamaan (4) dikenal juga dengan Hukum Hooke. Hukum Hooke berlaku
dibawah batas elastik, dimana untuk sebagian besar bahan selama beban
atau tegangan tidak melampaui batas elastik, regangan akan sebanding
dengan tegangan. Regangan elastik akan sebanding dengan tegangan bila
pada bahan / logam hanya terjadi deformasi elastik.
Regangan elastik merupakan hasil perpanjangan sel satuan dalam arah
tegangan tarik, atau hasil kontraksi dari sel satuan dalam arah tekan.
Makin besar gaya tarik menarik antara atom logam, makin tinggi pula
modulus elastisitasnya. Modulus elastisitas bersifat anisotropik, yaitu
berubah sesuai arah kristal dikenal sebagai anisotropik kristalografi.
Pada pembebanan geser, bekerja dua gaya yang sejajar (gambar 1).
Tegangan geser σs adalah gaya Fs dibagi dengan luas bidang geser As.
(5)
Gaya geser menyebabkan adanya pergeseran sudut . Regangan geser
didefinisikan sebagai tangen . Perbandingan tegangan geser σs dengan
regangan geser disebut
modulus geser G.
(6)
Modulus geser G disebut juga modulus kekakuan, berbeda dengan modulus elastisitas
(modulus young) E. Untuk regangan kecil berlaku hubungan:
(7)
adalah bilangan poisson yaitu perbandingan negatif antara regangan
melintang y dengan regangan tarik z . Bilangan Poisson berada antara
0,25 sampai 0,5, maka nilai G mendekati 35 % dari E.
Kekuatan tarik
(tensile strenght) atau kekuatan tekan
(compressive strenght) menyatakan ukuran tegangan yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak bahan.
Diagram antara
stress (tegangan) dan
strain (regangan) dapat digunakan untuk menentukan sifat mekanik dari suatu bahan. Diagram tersebut menggambarkan perubahan
stress terhadap
strain bila benda dikenai suatu gaya.
2.4 Deformasi Plastis
Hukum Hooke menyatakan bahwa
strain berbanding lurus dengan
stress dan hukum ini dipenuhi oleh benda pada
daerah elastis.
Jika bahan ditarik oleh suatu gaya pada daerah elastis, maka benda
tersebut akan mengalami perubahan ukuran, kemudian setelah gaya
dihilangkan maka benda akan kembali pada keadaan semula.
Pada tegangan yang lebih tinggi (melewati batas elastis), terjadi
pergeseran tetap atom - atom dalam suatu bahan disamping regangan
elastik. Regangan tetap ini tidak mampu kembali pada keadaan semula
ketika tegangan ditiadakan. Regangan ini disebut regangan palastis
(plastic strain). Pada daerah plastis, ukuran banda tidak dapat kembali seperti semula apabila gaya telah dihilangkan. Grafik
stress terhadap
strain pada daerah elastis adalah linier sedangkan pada daerah plastis menunjukkan harga maksimum
ulitimate strentht. Harga slope grafik linier dinyatakan sebagai modulus Young. Luas daerah total dari kurva menyatakan harga
modulus of toughness, sedangkan luas daerah elastis menyatakan harga
modulus of resilence.
Modulus of toughness
(ketangguhan) didefinisikan sebagai energy total yang diserap oleh
benda tiap satu satuan volume hingga terjadi deformasi struktur (patah
atau robek).
Modulus of resilence didefinisikan sebagai energy
yang diserap oleh benda setiap satu satuan pada daerah elastis. Kedua
besaran ini berpengaruh pada kerja benda yang pada umumnya pada daerah
elastis.
Keuletan
(dusility) menyatakan besarnya regangan plastis sampai patah, dapat dinyatakan sebagai presentasi perpanjangan
(precent elongation).
(10)
Kekuatan luluh (
Yield strength), S
y merupakan
ketahanan suatu bahan terhadap deformasi plastis dinyatakan dengan
besarnya gaya pada suatu luluh dibagi luas penampang.
2.5 Kekuatan Tekan (Compresive Strength)
Kekuatan tekan
(compressive strength) menyatakan ukuran besar gaya yang diperlukan untuk merusak bahan.
(11)
dengan F
s merupakan besar gaya yang diberikan, sedangkan A
s merupakan luas permukaan bahan yang diuji.
3 Metodologi Penelitian
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Autograph tipe AG-10 TE Shimadzu.
- Penggaris
- Mikrometer skrup
Bahan yang dibutuhkan adalah:
- PVC
- Tablet berbentuk silindris
- Memotong bahan sesuai dengan keperluan.
- Memasang asesoris alat untuk uji tarik kemudian memilih beban (load cell) yang sesuai dengan kekuatan bahan uji A,B, dan C.
- Meletakkan bahan uji pada tempatnya.
- Menyalakan power supply, tombol 1 dan 2 dinyalakan dan di set up.
- Mengatur jarak maksimum yang diperlukan.
- Mengatur kecepatan pembebanan (pilih kecepatan rendah)
- Memilih range beban (gaya) yang diukur
- Menarik load cell perlahan-lahan, kemudian stop, dan mencatat besar gaya dan strainnya
- Mengulangi langkah 8, dengan perubahan yang sangat kecil sampai tercapai keadaan plastik atau sampah patah.
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Pengukuran Stress, Strain dan Kekuatan Tarik (Tensile Strength)
10. Menulis hasil pengamatan pada tabel.
3.2.2 Pengukuran Kekuatan Tekan (Compressive Strength)
- Memotong bahan sesuai dengan keperluan
2. Memasang asesoris alat untuk uji tekan kemudian memilih beban (load cell) yang sesuai dengan kekuatan bahan uji A,B dan C.
- Meletakkan bahan uji pada tempatnya.
- Menyalakan power supply,tombol 1 dan 2 dinyalakan dan di set up
- Mengatur jarak maksimum yang diperlukan
- Mengatur kecepatan pembebanan (pilih kecepatan rendah)
- Memilih range beban (gaya) yang diukur
- Menurunkan load cell perlahan-lahan, kemudian di stop, dan mencatat besar gaya strainnya.
- Mengulangi langkah 8 dengan perubahan yang sangat kecil, sampai patah.
- Menuliskan hasil pengamatan pada table.
Untuk mengetahui sifat-sifat mekanik suatu bahan, maka perlu dilakukan beberapa pengujian diantaranya kekuatan tarik
(tensile strength) dan kekuatan tekan
(compression strength) dengan menggunakan autograph tipe AG-10 TE Shimadzu.
4.1 Kekuatan Tarik (Tensile Strength)
Kekuatan tarik
(tensile strength) menyatakan ukuran besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan bahan. Dalam praktikum ini bahan yang digunakan adalah PVC.
Diagram antara
stress (tegangan) dan
strain (regangan) hasil praktikum ditunjukkan gambar di bawah ini:
Grafik 1. Grafik Hubungan
Stress dengan
Strain
Dari grafik tampak hubungan stress dengan strain berbanding lurus
yang hanya berlaku pada daerah elastis.Daerah elastis pada grafik
ditunjukkan oleh garis warna biru, dimana pada saat itu PVC diberi
tegangan tetapi PVC tersebut mampu mempertahankan bentuknya saat
tegangan dihilangkan.
Perbandingan stress dengan strain disebut dengan modulus young atau
modulus elastisitas. Besar modulus young tidak lain adalah gradient
pada grafik yaitu sebesar 1782548,2. Semakin besar gaya tarik menarik
antara atom bahan, semakin tinggi modulus elastisitasnya.
Sedangkan garis merah pada grafik di atas menunjukkan bahwa PVC
sudah mengalami daerah plastis. Keadaan dimana suatu bahan sudah tidak
dapat kembali ke bentuknya semula. Garis merah menunjukkan bahwa
meskipun
strain bertambah namun besarnya
stress tetap. Daerah plastis tersebut terjadi ketika PVC diberi gaya sebesar 487 Newton.
Deformasi struktur atau titik ketika PVC patah pada saat
percobaan yaitu ketika diberi gaya 487 Newton dengan perubahan panjang
sebesar 26,01 mm.
Sedangkan deformasi plastis ditunjukkan pada table di bawah ini:
Tabel 1. Hasil Analisis Deformasi Plastis
NO
|
|
|
|
1
|
0,00466
|
|
0,117
|
2
|
0,00499
|
|
0,125
|
3
|
0,00509
|
|
0,127
|
4
|
0,02601
|
|
0,650
|
Deformasi plastis merupakan besarnya regangan plastis sampai
patah. PVC berada pada daerah plastis ketika diberi gaya sebesar 487
Newton.
4.2 Kekuatan Tekan (Compressive Strength)
Kekuatan tekan
(compressive strength) menyatakan ukuran
besar gaya yang diperlukan untuk merusak bahan. Semakin besar luas
permukaaan suatu bahan maka besar gaya yang diperlukan untuk merusak
bahan tersebut juga semakin besar. Dalam praktikum ini bahan yang
digunakan tablet berbentuk silinder. Dari hasil analisis diperoleh
kekuatan tekan sebesar
.
5 Kesimpulan
- Modulus elastisitas PVC hasil praktikum sebesar 1782548,2.
- Kekuatan tekan tablet berbentuk silinder hasil praktikum sebesar ...
6 Daftar Pustaka
Lawrence H. Van Vlack, 1995, Ilmu dan Teknologi Bahan, edisi kelima (penerjemah Sriati Djaprie), Erlangga, Jakarta.
Sears, Francis W. ,Mark W.Zemansky, 1962, Fisika untuk Universitas 1 (Mekanika, Panas, Bunyi), Alih bahasa : Ir.Soedarjana, Drs. Amir Achmad, Tirta Mandiri, Jakarta.
Tim KBK Fisika Material, 2014. Petunjuk Praktikum Fisika Eksperimental I, Laboratorium Fisika Material FST UA , Surabaya.